Selasa, 10 Juli 2012

Kalianlah Semangatku


Kalianlah Semangatku
By: Ayu Fitriana Widyaningsih
A320090067

Semangat!! aku pasti bisa!! kata-kata itu yang selalu muncul di perjalanan hidupku. Kata-kata itu pula yang selalu menemaniku dalam waktu-waktu kehidupanku sampai detik ini. Walaupun terkadang ada setitik rasa putus asa dan keraguan ketika semua mimpi-mimpi itu berhenti sesaat yang membuat semuanya tak berguna lagi. Tetapi harapan untuk meraih mimpi itu selalu ada dibenak ku karena orang-orang di dekatku yang membuatku menyadari bahwa hidup itu indah dan sederhana apabila kita mampu menikmatinya. Dan kesederhanaan itu yang aku lakukan hingga saat ini. Hidup itu tantangan dan petulangan. Apabila kita bisa melewatinya, disitulah kita bisa mengetahui arti kehidupan yang sesungguhnya. Itulah caraku menghadapi pahit dan manisnya kehidupan.
Kring…kring…kring… suara alarm berbunyi pukul 03.00 dini hari. Ingin rasanya terlelap lagi di kamarku yang amat sederhana ini. Ya…kamarkulah yang menjadi saksi pertumbuhan kehidupanku yang aku tempati dari SD hingga sekarang. Dari aku yang penakut tanpa bisa berkata apa-apa sampai sekarang aku yang berani mengutarakan segala hal dan terlalu banyak berkata-kata. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki dan adik perempuan. Kakak ku sudah bekerja, tetapi dia sudah sibuk dengan keluarganya sendiri. Sedangkan adik perempuanku, dia masih sekolah di SMP Negeri di kotaku. Dan aku kuliah di perguruan swasta dan sudah semester VI. Semua berlalu begitu cepat tanpa ku sadari ternyata aku sudah sedewasa ini dan harus bisa menentukan masa depanku sendiri.
Akupun bergegas menuju ke kamar mandi untuk sholat tahajud dan memulai lagi tugas-tugas kuliahku yang menumpuk di meja yang belum sempat aku kerjakan di hari sebelumnya karena harus mengajar di bimbingan belajar yang berada di dekat kampusku. Aku selain kuliah juga ikut kerja part time di waktu senggangku di berbagai tempat seperti menjaga warnet, katering, tutor, ikut event-event  dan lain-lain. Alhamdulillah hasilnya bisa membantu memenuhi kebutuhan hidupku, karena aku tidak mungkin hanya menggantungkan semua kebutuhanku kepada Ayah dan Ibu. Mereka bisa membiayai perkulihanku pun aku sudah bersyukur, walaupun kadang ingin rasanya mengeluh kenapa keras sekali kehidupan ini, tapi itu tidak membuatku menyerah untuk meraih masa depan. “Nduk, mau tak buatin teh anget?” suara ibu yang mengagetkanku. Dengan kaget aku jawab “Ya Allah bu, ngagetin aja, mau copot jantungku bu” Ibu tidak jawab apa-apa malah tersenyum kecil di hadapanku, akupun melanjutkan ucapanku “Ga usah Bu, ntar tak buat sendiri kalau pengen teh” lalu ibu menjawab “Ya sudah, tak tidur dikamarmu aja kalau gitu.” Tanpa kujawab apa-apa, ibu sudah tiduran dikamarku karena aku sudah sibuk mengetik tugas-tugasku. Ya…begitulah ibuku, kadang aku berpikir, Ya Allah kenapa Engkau ciptakan seorang makhluk seperti ibuku ini…mulia sekali hatinya, begitu sempurna, dia tidak pernah merasa lelah menemaniku disetiap waktu, membiayai semua kehidupanku, selalu menungguku di teras ketika aku pulang terlalu malam, selalu menyiapkan cemilan waktu aku belajar larut malam dan selalu tersenyum dihadapanku.
Semenjak Ayah sudah tidak bisa menopang semua biaya hidup keluarga, cuma ibulah satu-satunya yang bisa membiayai semua kehidupan di keluargaku, walaupun ayah juga tetap masih membiayai biaya keluarga tetapi ibulah yang lebih dominan. Dulu ayah seorang pengusaha yang bisa dibilang amat sukses tetapi dengan perkembangan jaman, semuanya berubah dalam waktu sekejap. Sekarang kebanyakan waktu ayah di habiskan untuk mengurusi sawah ataupun menggarap sawah oranglain dan Alhamdulillah hasil sawah itu juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga kami. Aku sempat merasa putus asa untuk melanjutkan sekolahku, aku tidak ingin lagi merepotkan orangtuaku. Sedih sekali rasanya karena semua yang aku harapkan hanyalah mimpi belaka. Tetapi karena keyakinan ibu dan kakak, aku pun melanjutkan untuk kuliah sampai sekarang.
Ketika adzan Subuh berkumandang, kutengok ibu yang tiduran di kasurku, ternyata ibu sudah tidak ada lagi dikamarku. Aku pun bergegas untuk sholat subuh dan Beliau ternyata sudah siap-siap untuk mengantar pesanan kue-kue dan berjualan dipasar. Kemudian aku membantu Ibu membungkus kue-kue yang sudah matang.” An, hari ini ada acara apa? nanti anter ibu ya An” kata ibu. “Kemana bu? nanti aku sore aku mau jaga warnet bu” jawabku. Kemudian ibu menjawab “Nanti abis ibu pulang dari pasar sama nganter kue-kue, antar ibu kerumah sakit, budhe Sumi sakit parah jadi harus operasi, semua keluarga nanti bakal kumpul disana. Ayah nanti ke sawah, kan panen jadi tidak bisa mengantar Ibu.” Aku pun hanya mengangguk, sebenarnya aku tidak begitu menyukai kumpul keluarga besar karena disana aku merasa asing dengan segala suasananya. Mereka selalu asik berbicara mengenai pekerjaan dan jabatan yang dimilikinya. Aku benci dengan kesombongan mereka. Apa mereka tidak menyadari ada orang lain yang tidak seperti mereka. Kenapa selalu di ucapkan berulang-ulang seolah-olah ingin memamerkan segala yang mereka punya. Mereka selalu membanding-bandingkan prestasi yang diperoleh anak-anaknya, apa itu membuat mereka puas dan bahagia? Entah apa yang dipikirkan mereka, toh aku tidak mau ikut campur urusan mereka.
Tibalah aku harus mengantar ibu ke rumah sakit. Sama persis yang aku katakan tadi, mereka berbicara lagi tentang kesombongan mereka. Aku pun hanya bisa diam. Seperti biasa bulek Nani menghampiriku dan selalu membicarakan tentang adik perempuannya “Rina” setiap kami bertemu. “Dek Ani, gimana kuliahnya?lancar ga?”. Dengan tersenyum aku menjawab “Alhamdulillah lancar bulek.” Tanpa ku Tanya, dia menceritakan tentang adik perempuannya, “Adek ku sekarang dapat beasiswa lho dek, dia sering dipanggil jadi tentor bimbingan belajar aja tidak mau, bayarane dikit, ga cocok gitu ma ongkosnya, kalau kamu apa masih jadi tentor, dek?” ah ingin rasanya aku berteriak sudah cukup!!aku memang tak sehebat orang-orang disini, tapi lihatlah!!aku sedang berusaha, aku tahu batas kemampuanku,,jangan banding-bandingkan dengan yang lain!!Cukup!! tapi itu hanya bisa kupendam dan tersenyum kita bulek Retik berbicara. Aku terkenal pendiam dan tidak pernah membicarakan perkuliahanku ketika bersama saudara-saudara Ibu, mungkin itu juga alasannya kenapa mereka sering menganggap aku hanyalah perempuan polos dan tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Biarlah mereka berpendapat sendiri. Ini aku dan inilah hidupku.
Akhirnya yang aku nanti-nanti pun datang juga, ibu mengajak pulang kerumah. Sepanjang perjalanan, ibu hanya diam. “kenapa bu?” tanyaku. Ibu pun menjawab “An...budhe sumi sakit kok aneh-aneh aja ya An?” Aku pun menjawab, “Ah biasa bu orang kaya pasti penyakitnya aneh-aneh, biar berkurang duitnya, bersyukur aja bu kita orang sederhana, jadi sakitnya ya sederhana, paling mentok ya masuk angin, obatnya kerokan aja sudah sembuh” Ibu pun sambil tertawa kecil menjawab, “Iyaya, mmm… An kamu harus jadi orang sukses lho ya kalau sudah jadi Sarjana biar mereka ga menganggap enteng kita terus.” Aku pun sambil tersenyum menjawab “Iya bu, insyaallah” Ibu pun menyahut “Janji lho ya? eh ntar kalau sudah sukses, ibu dikasih apa An?” Ah rasanya aku ga bisa menjawab apa-apa, aku hanya bisa tersenyum saat Ibu bertanya seperti itu lagi. Dibenak ku, aku ingin sekali berkata…Lihat aku Ibu, aku ga mau berjanji memberi berwujud barang apapun karena aku takut ga bisa memberinya suatu hari nanti seperti yang dilakukan kakak sekarang, dulu dia berjanji memberikan barang-barang yang kau inginkan dan itu hanyalah sekedar omongan belaka. Tapi aku hanya bisa berjanji, aku akan memberikan apa yang aku punya untukmu Ibu, segalanya… karena kaulah yang membuatku yakin aku bisa meraih mimpi-mimpi masa depanku.
Sampai di rumah, aku pun melihat Ayah duduk-duduk diteras. Sepertinya beliau memang sedang menuggu kami pulang kerumah. “Buk, sekarang sawah-sawah Pak Narto di depan rumah sudah tidak bisa digarap lagi, mau dipakai bangun perumahan, jadinya tinggal 1 sawah kita sendiri yang bisa digarap.” Kata Ayah dengan wajah sedih. Ibu pun kaget, kemudian berkata “lho Yah, sekarang to bangun perumahannya?padahal biaya Spp nya Ani aku ambil dari hasil sawah di depan rumah kita itu Yah, lha terus gimana Yah? sawah kita sendiri kan cuma setengah hektar, mana cukup buat bayar SPP Ani Yah, belum lagi Shira yang bentar lagi ujian, harus melunasi biaya pembangunan dan SPP nya” Ayah pun menjawab dengan nada rendah “Ah ya sudahlah Bu, rejeki sudah ada yang ngatur, nanti pasti ada Bu”. Aku pun masuk ke kamar, tidak sanggup rasanya melihat mereka bersedih seperti itu, padahal baru saja Ibu berkeinginan agar aku menjadi orang sukses. Aku merenungkan semuanya, aku tidak ingin semuanya berhenti disini, aku pun berniat untuk mendaftar di lowongan pekerjaan yang bisa diselingi kuliah. Sorenya, ketika menjaga warnet, aku pun memanfaatkan waktu browsing  tentang lowongan pekerjaan dan membuat surat lamaran hingga malam hari.
Esoknya, aku pun mendaftar pekerjaan-pekerjaan tersebut tanpa diketahui orang tua dan adik ku. Tetapi semua pekerjaan yang aku daftar, aku hanya disuruh menaruh surat lamaran diruang seketariat dan akan di hubungi kalau ada panggilan. Ah kapan aku akan dihubungi…itu yang muncul dibenakku. Ingin rasanya menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, tapi aku tidak mungkin seperti itu. Keadaan pasti akan tertawa padaku kalau aku menyerah dan putus asa. Aku putuskan untuk kembali kerumah setelah seharian berkeliaran mendaftar pekerjaan yang entah kapan diterimanya. Sampai dirumah, Dek Shira dan Ibu menyambutku dengan senang sekali. Kenapa mereka?? aku pun hanya diam karena terlalu kecapekan. Kemudian Ibu berkata “nduk, kenapa tidak bilang-bilang to kalau pernah mendaftar beasiswa?” aku pun diam saja karena tidak tahu apa maksud mereka. “Mbak selamat ya, dapat beasiswa” cetus adik ku sambil membaca surat yang dipegangnya. Aku makin bingung, lalu berkata “Maksudnya apa to Bu? beasiswa apa?” Ibu pun senyum lalu berkata, “Coba di ingat-ingat, pernah mendaftar beasiswa tidak?” aku pun berfikir, oia dulu pernah daftar ketika IP ku mencapai angka 4.00 waktu semester IV di suatu perusahaan yang ternama di negeri ini tapi itu sudah lama sekali, apa jangan-jangan memang keterima? Lalu Ibu berkata “Ini dapat beasiswa, lumayan nduk dapat membiayai kuliahmu sampai kamu lulus kuliah” aku pun hanya bisa diam, seperti baru jatuh dari langit, kemudian aku membaca surat tersebut yang berisi nominal uang yang bisa di ambil di Bank yang ditunjuk perusahaan tersebut. Satu kata yang bisa terucap dari mulutku, “Alhamdulillah” Aku pun tidak bisa menahan air mataku. Bukan air mata kesedihan, tapi kebahagiaan. Perjuanganku tidak sia-sia, semua semangatku untuk melawan sebuah  keputus asaan sekarang ada hasilnya. Kini aku bisa menepati janjiku kepada Ibuku, aku pasti sukses Ibu. Aku akan selalu berusaha dengan segala kemampuanku untuk mencapai kesuksesanku. Kutunjukkan kepada mereka kalau kita bisa dengan niat dan sabar itulah kuncinya. Aku pasti bisa meraihnya!! aku pun memeluk ibu dengan erat-erat. “terimakasih Ayah..Ibu, karena kalianlah yang mendidik aku hingga seperti ini. Kalianlah semangatku.
Selesai…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar