Kalianlah
Semangatku
By: Ayu Fitriana Widyaningsih
A320090067
Semangat!!
aku pasti bisa!! kata-kata itu yang selalu muncul di perjalanan hidupku. Kata-kata
itu pula yang selalu menemaniku dalam waktu-waktu kehidupanku sampai detik ini.
Walaupun terkadang ada setitik rasa putus asa dan keraguan ketika semua
mimpi-mimpi itu berhenti sesaat yang membuat semuanya tak berguna lagi. Tetapi
harapan untuk meraih mimpi itu selalu ada dibenak ku karena orang-orang di
dekatku yang membuatku menyadari bahwa hidup itu indah dan sederhana apabila
kita mampu menikmatinya. Dan kesederhanaan itu yang aku lakukan hingga saat
ini. Hidup itu tantangan dan petulangan. Apabila kita bisa melewatinya,
disitulah kita bisa mengetahui arti kehidupan yang sesungguhnya. Itulah caraku
menghadapi pahit dan manisnya kehidupan.
Kring…kring…kring…
suara alarm berbunyi pukul 03.00 dini hari. Ingin rasanya terlelap lagi di
kamarku yang amat sederhana ini. Ya…kamarkulah yang menjadi saksi pertumbuhan
kehidupanku yang aku tempati dari SD hingga sekarang. Dari aku yang penakut
tanpa bisa berkata apa-apa sampai sekarang aku yang berani mengutarakan segala
hal dan terlalu banyak berkata-kata. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki dan
adik perempuan. Kakak ku sudah bekerja, tetapi dia sudah sibuk dengan keluarganya
sendiri. Sedangkan adik perempuanku, dia masih sekolah di SMP Negeri di kotaku.
Dan aku kuliah di perguruan swasta dan sudah semester VI. Semua berlalu begitu
cepat tanpa ku sadari ternyata aku sudah sedewasa ini dan harus bisa menentukan
masa depanku sendiri.
Akupun
bergegas menuju ke kamar mandi untuk sholat tahajud dan memulai lagi
tugas-tugas kuliahku yang menumpuk di meja yang belum sempat aku kerjakan di
hari sebelumnya karena harus mengajar di bimbingan belajar yang berada di dekat
kampusku. Aku selain kuliah juga ikut kerja part time di waktu senggangku di berbagai
tempat seperti menjaga warnet, katering, tutor, ikut event-event dan lain-lain. Alhamdulillah hasilnya bisa
membantu memenuhi kebutuhan hidupku, karena aku tidak mungkin hanya
menggantungkan semua kebutuhanku kepada Ayah dan Ibu. Mereka bisa membiayai
perkulihanku pun aku sudah bersyukur, walaupun kadang ingin rasanya mengeluh
kenapa keras sekali kehidupan ini, tapi itu tidak membuatku menyerah untuk
meraih masa depan. “Nduk, mau tak buatin teh anget?” suara ibu yang mengagetkanku.
Dengan kaget aku jawab “Ya Allah bu, ngagetin aja, mau copot jantungku bu” Ibu
tidak jawab apa-apa malah tersenyum kecil di hadapanku, akupun melanjutkan ucapanku
“Ga usah Bu, ntar tak buat sendiri kalau pengen teh” lalu ibu menjawab “Ya sudah,
tak tidur dikamarmu aja kalau gitu.” Tanpa kujawab apa-apa, ibu sudah tiduran dikamarku
karena aku sudah sibuk mengetik tugas-tugasku. Ya…begitulah ibuku, kadang aku
berpikir, Ya Allah kenapa Engkau ciptakan seorang makhluk seperti ibuku
ini…mulia sekali hatinya, begitu sempurna, dia tidak pernah merasa lelah
menemaniku disetiap waktu, membiayai semua kehidupanku, selalu menungguku di
teras ketika aku pulang terlalu malam, selalu menyiapkan cemilan waktu aku
belajar larut malam dan selalu tersenyum dihadapanku.
Semenjak
Ayah sudah tidak bisa menopang semua biaya hidup keluarga, cuma ibulah
satu-satunya yang bisa membiayai semua kehidupan di keluargaku, walaupun ayah
juga tetap masih membiayai biaya keluarga tetapi ibulah yang lebih dominan.
Dulu ayah seorang pengusaha yang bisa dibilang amat sukses tetapi dengan
perkembangan jaman, semuanya berubah dalam waktu sekejap. Sekarang kebanyakan
waktu ayah di habiskan untuk mengurusi sawah ataupun menggarap sawah oranglain dan
Alhamdulillah hasil sawah itu juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga kami. Aku sempat
merasa putus asa untuk melanjutkan sekolahku, aku tidak ingin lagi merepotkan
orangtuaku. Sedih sekali rasanya karena semua yang aku harapkan hanyalah mimpi
belaka. Tetapi karena keyakinan ibu dan kakak, aku pun melanjutkan untuk kuliah
sampai sekarang.
Ketika
adzan Subuh berkumandang, kutengok ibu yang tiduran di kasurku, ternyata ibu
sudah tidak ada lagi dikamarku. Aku pun bergegas untuk sholat subuh dan Beliau ternyata
sudah siap-siap untuk mengantar pesanan kue-kue dan berjualan dipasar. Kemudian
aku membantu Ibu membungkus kue-kue yang sudah matang.” An, hari ini ada acara
apa? nanti anter ibu ya An” kata ibu. “Kemana bu? nanti aku sore aku mau jaga
warnet bu” jawabku. Kemudian ibu menjawab “Nanti abis ibu pulang dari pasar sama
nganter kue-kue, antar ibu kerumah sakit, budhe Sumi sakit parah jadi harus
operasi, semua keluarga nanti bakal kumpul disana. Ayah nanti ke sawah, kan
panen jadi tidak bisa mengantar Ibu.” Aku pun hanya mengangguk, sebenarnya aku
tidak begitu menyukai kumpul keluarga besar karena disana aku merasa asing
dengan segala suasananya. Mereka selalu asik berbicara mengenai pekerjaan dan
jabatan yang dimilikinya. Aku benci dengan kesombongan mereka. Apa mereka tidak
menyadari ada orang lain yang tidak seperti mereka. Kenapa selalu di ucapkan
berulang-ulang seolah-olah ingin memamerkan segala yang mereka punya. Mereka
selalu membanding-bandingkan prestasi yang diperoleh anak-anaknya, apa itu membuat
mereka puas dan bahagia? Entah apa yang dipikirkan mereka, toh aku tidak mau
ikut campur urusan mereka.
Tibalah
aku harus mengantar ibu ke rumah sakit. Sama persis yang aku katakan tadi, mereka
berbicara lagi tentang kesombongan mereka. Aku pun hanya bisa diam. Seperti
biasa bulek Nani menghampiriku dan selalu membicarakan tentang adik
perempuannya “Rina” setiap kami bertemu. “Dek Ani, gimana kuliahnya?lancar ga?”.
Dengan tersenyum aku menjawab “Alhamdulillah lancar bulek.” Tanpa ku Tanya, dia
menceritakan tentang adik perempuannya, “Adek ku sekarang dapat beasiswa lho
dek, dia sering dipanggil jadi tentor bimbingan belajar aja tidak mau, bayarane
dikit, ga cocok gitu ma ongkosnya, kalau kamu apa masih jadi tentor, dek?” ah
ingin rasanya aku berteriak sudah cukup!!aku memang tak sehebat orang-orang
disini, tapi lihatlah!!aku sedang berusaha, aku tahu batas kemampuanku,,jangan
banding-bandingkan dengan yang lain!!Cukup!! tapi itu hanya bisa kupendam dan tersenyum
kita bulek Retik berbicara. Aku terkenal pendiam dan tidak pernah membicarakan
perkuliahanku ketika bersama saudara-saudara Ibu, mungkin itu juga alasannya kenapa
mereka sering menganggap aku hanyalah perempuan polos dan tidak tahu apa-apa
tentang kehidupan. Biarlah mereka berpendapat sendiri. Ini aku dan inilah
hidupku.
Akhirnya
yang aku nanti-nanti pun datang juga, ibu mengajak pulang kerumah. Sepanjang perjalanan,
ibu hanya diam. “kenapa bu?” tanyaku. Ibu pun menjawab “An...budhe sumi sakit
kok aneh-aneh aja ya An?” Aku pun menjawab, “Ah biasa bu orang kaya pasti
penyakitnya aneh-aneh, biar berkurang duitnya, bersyukur aja bu kita orang
sederhana, jadi sakitnya ya sederhana, paling mentok ya masuk angin, obatnya
kerokan aja sudah sembuh” Ibu pun sambil tertawa kecil menjawab, “Iyaya, mmm…
An kamu harus jadi orang sukses lho ya kalau sudah jadi Sarjana biar mereka ga
menganggap enteng kita terus.” Aku pun sambil tersenyum menjawab “Iya bu,
insyaallah” Ibu pun menyahut “Janji lho ya? eh ntar kalau sudah sukses, ibu
dikasih apa An?” Ah rasanya aku ga bisa menjawab apa-apa, aku hanya bisa
tersenyum saat Ibu bertanya seperti itu lagi. Dibenak ku, aku ingin sekali
berkata…Lihat aku Ibu, aku ga mau berjanji memberi berwujud barang apapun karena
aku takut ga bisa memberinya suatu hari nanti seperti yang dilakukan kakak
sekarang, dulu dia berjanji memberikan barang-barang yang kau inginkan dan itu
hanyalah sekedar omongan belaka. Tapi aku hanya bisa berjanji, aku akan
memberikan apa yang aku punya untukmu Ibu, segalanya… karena kaulah yang
membuatku yakin aku bisa meraih mimpi-mimpi masa depanku.
Sampai
di rumah, aku pun melihat Ayah duduk-duduk diteras. Sepertinya beliau memang
sedang menuggu kami pulang kerumah. “Buk, sekarang sawah-sawah Pak Narto di
depan rumah sudah tidak bisa digarap lagi, mau dipakai bangun perumahan,
jadinya tinggal 1 sawah kita sendiri yang bisa digarap.” Kata Ayah dengan wajah
sedih. Ibu pun kaget, kemudian berkata “lho Yah, sekarang to bangun
perumahannya?padahal biaya Spp nya Ani aku ambil dari hasil sawah di depan
rumah kita itu Yah, lha terus gimana Yah? sawah kita sendiri kan cuma setengah
hektar, mana cukup buat bayar SPP Ani Yah, belum lagi Shira yang bentar lagi
ujian, harus melunasi biaya pembangunan dan SPP nya” Ayah pun menjawab dengan nada
rendah “Ah ya sudahlah Bu, rejeki sudah ada yang ngatur, nanti pasti ada Bu”.
Aku pun masuk ke kamar, tidak sanggup rasanya melihat mereka bersedih seperti
itu, padahal baru saja Ibu berkeinginan agar aku menjadi orang sukses. Aku merenungkan
semuanya, aku tidak ingin semuanya berhenti disini, aku pun berniat untuk mendaftar
di lowongan pekerjaan yang bisa diselingi kuliah. Sorenya, ketika menjaga
warnet, aku pun memanfaatkan waktu browsing tentang lowongan pekerjaan dan membuat surat
lamaran hingga malam hari.
Esoknya,
aku pun mendaftar pekerjaan-pekerjaan tersebut tanpa diketahui orang tua dan
adik ku. Tetapi semua pekerjaan yang aku daftar, aku hanya disuruh menaruh
surat lamaran diruang seketariat dan akan di hubungi kalau ada panggilan. Ah kapan
aku akan dihubungi…itu yang muncul dibenakku. Ingin rasanya menangis dan
berteriak sekencang-kencangnya, tapi aku tidak mungkin seperti itu. Keadaan
pasti akan tertawa padaku kalau aku menyerah dan putus asa. Aku putuskan untuk
kembali kerumah setelah seharian berkeliaran mendaftar pekerjaan yang entah
kapan diterimanya. Sampai dirumah, Dek Shira dan Ibu menyambutku dengan senang
sekali. Kenapa mereka?? aku pun hanya diam karena terlalu kecapekan. Kemudian
Ibu berkata “nduk, kenapa tidak bilang-bilang to kalau pernah mendaftar
beasiswa?” aku pun diam saja karena tidak tahu apa maksud mereka. “Mbak selamat
ya, dapat beasiswa” cetus adik ku sambil membaca surat yang dipegangnya. Aku makin
bingung, lalu berkata “Maksudnya apa to Bu? beasiswa apa?” Ibu pun senyum lalu
berkata, “Coba di ingat-ingat, pernah mendaftar beasiswa tidak?” aku pun
berfikir, oia dulu pernah daftar ketika IP ku mencapai angka 4.00 waktu
semester IV di suatu perusahaan yang ternama di negeri ini tapi itu sudah lama
sekali, apa jangan-jangan memang keterima? Lalu Ibu berkata “Ini dapat beasiswa,
lumayan nduk dapat membiayai kuliahmu sampai kamu lulus kuliah” aku pun hanya
bisa diam, seperti baru jatuh dari langit, kemudian aku membaca surat tersebut
yang berisi nominal uang yang bisa di ambil di Bank yang ditunjuk perusahaan
tersebut. Satu kata yang bisa terucap dari mulutku, “Alhamdulillah” Aku pun
tidak bisa menahan air mataku. Bukan air mata kesedihan, tapi kebahagiaan.
Perjuanganku tidak sia-sia, semua semangatku untuk melawan sebuah keputus asaan sekarang ada hasilnya. Kini aku
bisa menepati janjiku kepada Ibuku, aku pasti sukses Ibu. Aku akan selalu
berusaha dengan segala kemampuanku untuk mencapai kesuksesanku. Kutunjukkan
kepada mereka kalau kita bisa dengan niat dan sabar itulah kuncinya. Aku pasti
bisa meraihnya!! aku pun memeluk ibu dengan erat-erat. “terimakasih Ayah..Ibu,
karena kalianlah yang mendidik aku hingga seperti ini. Kalianlah semangatku.
Selesai…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar